DENPASAR – Korban Bom Bali I mempersoalkan lambatnya eksekusi hukuman mati terhadap Amrozi dan kawan-kawan. Mereka heran mengapa rencana eksekusi berlarut-larut sehingga Amrozi cs terus menjadi sorotan media. "Maling ayam saja langsung dipukuli babak-belur, sekarang mereka malah jadi artis," kata Supriyadi Laksono, 40 tahun, kepada Tempo Newsroom di Denpasar, Bali, kemarin.
Istri Supriyadi adalah salah satu korban tewas dalam aksi pengeboman oleh kawanan Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Gufron di Kuta, Bali, Oktober enam tahun lalu. Kini Supriyadi aktif sebagai Ketua Yayasan Kisanak Dewata, organisasi yang mengurus para anak, janda, dan duda korban bom Bali.
Supriyadi bercerita, penundaan eksekusi membuat trauma keluarga para korban tak kunjung hilang. “Setiap ada penundaan, para pelaku pengeboman menjadi berita di media. Anak-anak saya yang sudah stabil emosinya menjadi marah kembali karena teringat ibunya,” kata dia lagi.
Kekecewaan juga datang dari I Gusti Ngurah Anom, 40 tahun, korban bom yang menderita luka bakar di sekujur tubuh. "Apa masalahnya, kok pemerintah mau dipermainkan?" ujar Anom. "Kalau pemerintah tak berani, bawa saja ke Bali untuk dieksekusi di sini."
Menjelang eksekusi terhadap ketiga terpidana itu, warga Bali yang tergabung dalam National Integration Movement (NIM) menyiapkan acara doa bersama. Acara itu akan melibatkan sejumlah tokoh masyarakat Bali, para korban, dan keluarga yang kehilangan sanak kerabat mereka. "Kami juga mengundang masyarakat umum untuk hadir bersama-sama," kata Ketua Pelaksana Harian NIM Wayan Sayoga kemarin. Acara akan berlangsung setelah eksekusi dilakukan, bertempat di Anand Khrisna Asram, di Jalan Pura Mertasari Sunset Road, Kuta.
Sayoga menjelaskan, kegiatan spiritual ini bertujuan agar arwah ketiga terpidana dapat mencapai kedamaian. Bersamaan dengan itu, katanya, mereka berharap pemikiran para korban, keluarganya, maupun masyarakat yang dipenuhi kemarahan dan kebencian tidak terwariskan kepada generasi baru bangsa Indonesia. "Kekerasan harus diakhiri dan dipotong mata rantainya," kata Sayoga. Dia menambahkan, acara itu sekaligus menunjukkan adanya kesediaan keluarga korban memaafkan dan melupakan semua penderitaan akibat pengeboman.
Sabtu, 08 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Isi yg benerr,, klo ngaco g blh jauh2 ok..
jgn lp apus teks ini ok boi..